Rabu, 20 April 2011

Pesan Tengah Malam

 Oleh : Mashdar Zainal
SATU
Malam berkawin dengan hitam. Angin berpeluk dengan sepi. Larut dalam gigil. Jarum jam terus berdetak. Detaknya menyerupai suara mesin ketik tua yang terbata-bata. Lampu masih menyala. Buku masih terbuka. Kulirik jam dinding yang terus berkemelitik, mengetikkan waktu: jarum panjang diangka dua belas, jarum pendek mendekati angka enam. Mataku mengerjap-ngerjap. Berat. Aku harus pergi tidur.

DUA

Lampu kamar kumatikan. Separuh korden jendela kusingkap tepikan. Paku pandanganku menembus langsung ke wajah bulan. Ketika tubuh mulai kurebahkan. Selimut kubentangkan. Dan kelopak mata siap-siap kupejamkan. Tiba-tiba, HP disebelah bantal bergetar, layarnya berkedip-kedip. Diterima sebuah pesan.

"Maaf, malam-malam mengganggu. Ini aku. Masih ingat?"

Menyebalkan. Seperti orang tak punya nama saja. Tak kuacuhkan. Aku yakin, itu hanya ulah seorang teman. Beberapa menit kemudian. Sebuah pesan masuk lagi. Dari nomor yang sama.

"Sungguh, Kawan. Aku butuh bantuan."

Aneh sekali. Setelah mengajak main tebak-tebakkan, tiba-tiba minta bantuan. Masih tak kuhiraukan. Namun tak lama kemudian, HP memekik lagi.

"Aku sungguh-sungguh. Untuk membuatmu percaya, apakah aku harus bersumpah atas nama Tuhan?"

Mengapa harus membawa-bawa nama Tuhan. Berlebihan sekali kata-katanya. Namun, setelah pesan itu. Tiba-tiba aku menjadi gugup. Dalam remang, kupencet tombol-tombol huruf yang menyala disana.

"Maaf. Ini siapa?"

Klik. Terkirim. Beberapa detik kemudian...

"Ini aku, Lilla. Masa lupa?"

Klik. Balas.

"Lilla, Lilla Nurlilla. Lilla Kalideres? Lilla anak IPA III?

Kirim. Terkirim.
Tak lama satu pesan diterima.

"Memangnya kamu kenal berapa Lilla?"

Hatta perbincangan berlanjut panjang.

"Hehehe...btw apa kabar nih?"

"Btw? Btw apaan maksudnya? Buwat?"

"Hih, telmi banget. Btw singkatan dari By The Way: ngomong-ngomong."

"Oh...sekarang ngomongmu pake bahasa inggris, ya."

"Ya, dong. Hari gini, gak bisa bahasa Inggris... eh, nomormu koq gonta-ganti terus, kayak orang pacaran aja."

"Iya, HP yang dulu ilang. Nomornya ikut ilang."

"Kabarmu bagaimana?"

"Kabarku buruk"

"Buruk? Buruk bagaimana?"

"Buruk sekali. Makanya aku sms. Aku butuh bantuanmu."

"Bantuan? Bantuan apa?"

"Maaf, ya, belum-belum sudah merepotkan."

"Walah, kayak orang baru kenalan aja. Denger-denger kamu kerja di Hongkong, ya?"

"Iya, lebaran lalu saya pulang."

"Mudik?"

"He'eh."

"Kok gak kabar-kabar."

"Habis denger-denger. Sudah jadi penulis, novelis. Sudah jadi sastrawan."

"Ah, siapa bilang. Saya juga babu koq! Babu tinta. Hahaha"

"Ikut seneng. Kamu sukses."

"Amiiin. Jadi, bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?"

"Katanya kamu mau minta bantuan."

"O, iya aku lupa"

"Dari dulu penyakit lupamu gak sembuh-sembuh, ya."

"Belum nikah kok sudah punya penyakit pikun?"

"Hehehe..."

"Kamu belum nikah tho?"

"Kok hehe hehe terus?"

"Mana ada laki-laki yang mau sama babu lulusan SMA?"

"Ada. Laki-laki yang babu lulusan SMA juga. Hahaha..."

"Gak lucu..."

"Maap. Control Z, deh."

"Control Z?"

"Maksudnya kembali ke laptop. Jadi bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?"

"Aduuuh, tak jitak gundulmu. Katanya mau minta bantuan."

"Hehehe, iya, aku mau minta bantuan. To the point aja, yah...Kamu bisa gak, mengantarkan sesuatu ke alamat rumahku?"

"Lho, memangnya sekarang kamu gak dirumah?"

"Enggak. Sekarang aku berada ditempat yang sangat jauh. Jauuuh sekali."

"Di luar negeri?"

"Bukan. Lebih jauh dari itu."

"Diluar angkasa. Hahaha..."

"Di alam baka...hahaha..."

"Kalau begitu, aku sedang ngobrol dengan hantu, dong!"

"Kalau hantunya cantik tak masalah, kan?"

"Ssst...aku udah ada yang punya."

"Iya, aku tahu. Lagian mana mungkin cowok keren sepertimu mau sama aku."

"Baru tahu, ya, kalau aku keren. Hahaha..."

"Iih Narsis. Control Z, ya. Kembali ke permasalahan."

"Yups. So?"

"Langsung aja. Di sebuah gardu kosong, deket lapangan bola, deket rumahmu, ada sebuah kardus. Aku minta, kamu mengantarkan kardus itu ke keluargaku."

"Ih, kayak recidivis, aja. Kenapa gak langsung dianter ke rumahku aja."

"Kalau bisa, ngapain aku minta tolong kamu. Mendingan tak bawa pulang sendiri. Tapi, ya, itu. Aku benar-benar gak bisa. Makanya aku minta tolong sama kamu. Toloooong banget, ya? Pliiis."

"Lalu siapa yang naruh kardus itu di gardu. Aneh-aneh saja, atau jangan-jangan isinya narkoba, atau malah bom."

"Gak kok! Tak jamin, isinya bukan narkoba, apalagi bom."

"Lalu apa, dong."

"Nanti setelah sampai rumahku, kamu akan tahu."

"Walah, malah main teka-teki. Ogah, ah, kalau ngga jelas."

"Ini jelas. Jelas sekali. Ayolah! pliiis! Ini yang terakhir kali. Benar-benar yang terakhir kai. Ya? Oke?"

"Ya lah...tapi masa harus sekarang."

"Gak. Besok pagi atau siang juga gak papa. Sekarang kalau mau istirahat, silahkan istirahat. Terima kasih, ya. Dadaaaa..."

"Lho? Jadi ceritanya sudah bosen nih ngobrol sama temen lama?"

"Takut ganggu istirahatmu aja."

"Dari tadi sudah ganggu. Ganggu sekalian aja. Terlanjur basah, ya sudah, mandi sekali. Terlanjur malu ya sudah, malu sekali...(dangdutan.com)."

"Hihi, gak nyangka dangduters juga."

"Emang kenapa?"

"Gak papa sih."

"Seolah-olah, kalau cowok suka dangdutan kegagahannya ilang."

"Aku gak bilang gitu."

"Tidak secara langsung."

"Ngomong-ngomong, pulsamu masih ada nih?"

"Yee, ngelunjak. Mau tak telpon. Tak telpon nih!"

"Gak, gak, gak usah. Percaya kok. Penulis pasti duitnya banyak. Hehehe" 

"Tapi kayaknya masih banyakan duit yang baru pulang dari luar negeri, deh!"

"Jika saja kau tahu bagaimana nasib TKW."

"Kalau aku bisa nulis, mendingan jadi penulis daripada jadi TKW?"

"Kalau aku malah pengin jadi TKW. Eh, salah, maksudku TKP: Tenaga Kerja Pria. Hahaha bisa jalan-jalan ke luar negeri."

"Penulis malah bisa jalan-jalan keliling dunia, lewat tulisannya. Hahaha..."

"Ya, deh. Pokokke disyukuri aja. Eh, btw, kabarmu waktu di Hongkong bagaimana? Galakan mana majikanmu sama anjing lacaknya pak polisi."

"Hush! Majikanku orangnya baik, yak."

"Tapi, denger-denger banyak juga TKW yang diluar negeri yang dijadiin sate, dijadiin roti bakar setrika. Pulang ke kampung sudah pada gosong semua."

"Ya, kalau aku bilang sih untung-untungan juga."

"Jadi, kamu termasuk yang untung?"

"Ya, alhamdulillah."

"ya, ya, ya... (manggut-manggut)"

"Kayaknya sudah kehabisan bahan obrolan, ya! :-)"

"Kamu sudah ngantuk, ya?"

"Dengan keadaanku yang sekarang, aku tak mungkin mengantuk."

"Memangnya sekarang kamu lagi ngapain, sih? Di mana?"

"Aku berada disebuah tempat."

"Iya, nama tempatnya apa?"

"Aku sendiri tak tahu harus menyebutnya apa."

"Kamu tersesat?"

"Mungkin."

"Kok, mungkin? Kamu bener-bener aneh"

"Ya, ini memang aneh."

"Apa kau baik-baik saja?"

"Tidak."

"Hei, jangan bercanda, jangan bikin perasaanku gak enak."

"Aku pingin nangis."

"Ya sudah, tak telpon, ya?"

"Klik. Pesan terakhir terkirim."

Kubuka pesan masuk terakhir. Rincian pesan. Nomor. Simpan nomor:  Lilla Kalideres. Klik. Ku tekan tombol dial.

Tut... tut... tut... tut... tut...

Tidak tersambung. kembali kutekan dial.

Tut... tut... tut... tut... tut...

Tidak tersambung. Tiba-tiba perasaanku kacau. Aku teringat tentang kardus di gardu usang yang ia pesankan. Rasanya ingin kuambil kardus itu sekarang juga. Namun, malam begitu menyeramkan. Maka, kuurungkan. Kutengok angka di layar HP: 01.45. Tubuh kembali kurebahkan. Selimut kembali kubentangkan. Kelopak mata siap-siap kupejamkan.

Malam terus merangkak. Tubuhku terbuntal rapat seperti molen pisang. Lensa mataku menangkap remang bulan yang tiba-tiba ditutupi arakan awan. Mendadak aku teringat film-film vampire. Tepat saat adegan serigala mengaum di puncak malam. Bayangannya menyatu dengan wajah bulan. Aku merinding. Tubuh kumiringkan. Bantal & selimut kurapatkan. Mata kupejamkan. Aku harus pergi tidur.

TIGA

Pagi Buta, saat pertama kali kelopak mata tersingkap, tanganku sudah meraba-raba ke bawah bantal, ke sebelah bantal. HP di mana? Klik. Panggilan terakhir: Lilla Kalideres. Klik dial.

Tut... tut... tut... tut...

Tidak aktif. Ke mana anak ini? Semalam berbalas pesan. Sekarang HP gak diaktifkan. Apa dia kehabisan pulsa? Atau low baterry?

Setelah mentari meninggi, aku segera menghambur ke gardu usang yang ia maksudkan. Ada di tepian gang yang sangat sepi. Gang yang terapit lapangan becek & tanah kosong. Diantara rongsok kayu & tumpukan karung-karung bekas, teronggok sebuah kardus yang terbungkus sangat rapi. Rapi sekali. Dilakban di sisi-sisinya, dan dililit rafia tebal sebagai tali pegangan. Kuedarkan pandangan ke kiri & ke kanan. Sepi. Aku mendekati gardu usang itu. Tapi tiba-tiba ada bau menyengat. Seperti ikan busuk. Tapi tak ada lalat. Segera kuambil kardus itu & kubawa pulang.

EMPAT

Menjelang siang, dengan sepeda motor, aku melaju dari Kramatjati ke Kalideres. Kardus bau itu kuikat karet ban & kubonceng di jok belakang. Sepanjang perjalanan aku memutar otak, mengingat-ingat jalan yang benar menuju rumah itu. Aku pernah ke sana dua kali, waktu masih SMA, & bertahun-tahun setelah lulus dari SMA, kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing, kehidupan masing-masing. Kami putus kontak, hingga semalam, tiba-tiba dia menghubungiku lewat sebuah pesan pendek.

Bakda luhur, akhirnya aku sampai di depan rumah itu. Masih sama seperti dulu. Hanya cat temboknya berganti warna. Rumah itu pintunya terbuka. Beberapa orang tampak berkerumun di dalamnya. Kuketuk pintu, kulepas salam. Orang-orang yang berkerumun di dalam menoleh ke arahku. Lelaki paruh baya---yang kuingat sebagai bapaknya---segera berdiri & mempersilahkanku masuk. Tanpa basa-basi, segera kuutarakan maksud kedatanganku, "Semalam Lilla SMS saya Pak, dia minta tolong saya untuk mengantarkan kardus ini."

"Lilla SMS kamu? Semalam? " Seorang lelaki memekik. Semua pandangan terlempar ke arahku. Pertanyaan di kepalaku berkecambah. Semua terdiam. Tak bisa menjelaskan. Hingga seseorang berdiri & mengambil sebuah koran, telunjuknya terarah pada sebuah kolom tulisan, ada foto Lilla di sana: Gadis korban perkosaan & pembunuhan. Mayatnya dimutilasi & dibuang di beberapa tempat yang berbeda. Sampai sekarang, potongan tangan & kepala belum ditemukan.

LIMA

Mataku tak berkedip menatap kardus itu. Membayangkan isinya.***

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Ada kesalahan di dalam gadget ini