Selasa, 19 Juli 2011

Warung Copet-Copet

Oleh : Benny Arnas
Tadi aku bertemu Minah sedang jaga counternya Haji Samsul di Pasar Satelit. Katanya ia kecurian uang, Kak?” sigap Dul mengambil posisi duduk di warung Bi Ano. “Kopinya satu, Tin!”
“Alaah paling-paling kelupaan naruhnya,” Jami melepaskan topi koboinya dan menaruhnya di meja.
“Topi baru tuh!” Dul melirik topi koboi Jami.
“Ooo… tadi Subuh nemu di pasar. Yah kupakai saja untuk…”
“Untuk apa, Kak?”
“Ngg..ngg..nggak untuk apa-apa.” Jami kikuk. “Sudahlah, nggak usah dibahas! O ya, siapa yang ngantar kamu ke sini barusan? Tukang ojek baru ya?”
“Takut ada saingan ya, Kak? He..he..he…” Dul nyengir. “Itu kawan SMA-ku dari Palembang. Mirip Giring-Nidji, kan?He..he..he…” Dul meraih pisang goreng. “Kebetulan dia liburan ke Linggau, trus ketemuan di jalan, jadi aku minta antar ke sini.”
“Asas manfaat!”
“Dari pada naik ojek, 3.000!”
Jami menghirup kopi pahitnya yang mulai dingin.
“O ya Kak, kata Minah tadi ia benar-benar kecurian…”
“Dia kenal orang yang nyuri?”
“Katanya baru kali ini dia ngeliat orang itu di Pasar Satelit. Ceritanya orang itu pura-pura mau ngisi pulsa pagi tadi.”
“Trus?”
“Minah ngambil HP yang biasa digunakan untuk transfer pulsa elektrik ke dalam. Eeeh sepeninggalnya ke dalam, dompetnya raib. Lelaki yang mau ngisi pulsa itu entah pergi ke mana!”
“Ciri-cirinya?”
“Nah, aku lupa nanya, Kak!” Dul menepuk jidatnya.
“Sudahlah, Minah memang sering teledor. Untung bukan uang counter yang hilang!”
“Kok malah menyalahkan Minah, Kak? Kan kasihan…”
“Minah itu orangnya memang teledoran, Dul. Kamu masih ingat kan, 3 hari yang lalu dia juga ke pasar atas, terus pulang nangis, ngadu dengan ayukmu. Katanya kecopetan, tak tahunya dompetnya masih ada di bawah bantal tempat tidurnya.” Dul manggut-manggut.
“Sudahlah tak usah berlebihan. Aku tahu kamu naksir dengan adik iparku itu….” Muka Dul bersemu merah.
“Makasih, Cantik,” Dul tersenyum dengan tatapan nakal pada Tini yang menghidangkan kopi panas pesanannya.
“Dasar mata keranjang!” Jami menyentil telinga pemuda dua puluhan itu.
Tini bergegas ke belakang warung setelah mendengar Bi Ano berteriak untuk mengangkat gorengan tahu. Sebenarnya tanpa diteriaki ibunya pun, Tini juga akan segera berlalu dari hadapan dua lelaki yang kertas bon-nya sudah menumpuk di dinding warung itu.
“Lagi cair, Kak?” Dul menyeruput kopi. Matanya melirik jari jemari Jami yang menghitung beberapa lembar 20 ribuan.
“Hussh!” Jami menyalibkan telunjuk di bibir legamnya. “Jangan keras-keras nanti didengar Bi Ano. Disuruh bayar Bon. Mati aku!”
Dul terkekeh kecil, “Sekalian bayarin bon-nya Dul, Kak!” bisiknya sambil menopangkan sebelah tangannya di dekat telinga Jami.
“Ngawur!” Jami menepiskan tangan Dul. “Ini sebagian kecil simpananku di bawah lipatan pakaian di almari!” Jami memasukkan uang yang sudah tersusun rapi itu ke dalam dompet kumalnya. Satu lembar 20 ribuan terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya.
“Untuk Dul, Kak?” Dul sumringah. Matanya membelalak.
“Enak aja kamu!”
“Ya bagi-bagilah kalau ada rezeki.”
“Sudah kubilang ini bukan rezeki tapi simpananku. Itu pun ada perlunya. Memangnya kamu nggak tahu kalau kandungan ayukmu sudah 8 bulan-an.”
“Yaaa ‘kan brojolnya pas 9 bulan-an. Udahlah Kak, tak baik terlalu pelit jadi orang. Apapun itu namanya, yang jelas Kakak megang banyak uang.”
“Huh! Capek aku ngomong dengan pemalas kayak kamu, Dul! Ya sudah, untuk pagi ini, aku yang bayar sarapanmu!”
“Nah gitu dong!” Dul terkekeh renyah. “Kakak mau ke mana?” tanya Dul demi melihat Jami yang beringsut dari tempat duduknya.
“Ya ngojeklah. Kamu ndiri nggak narik?”
“Entar Kak. Agak siangan dikitlah,” Dul mencangking tahu goreng yang baru dihidangkan.
Tini hanya mengelengkan kepala. “Dasar pemalas!” batinnya.
“Tin, ini 20 ribu untuk kopiku!” Jami menunjuk gelas kopi yang tinggal ampas. Dul berhenti mengunyah. Matanya melirik Jami.
“Iya, iya, Bujang.” Kak Jami menepuk pundak Dul, “Kau itung juga sarapannya Dul. Sisanya kamu ambil.” Tini mengambil uang itu. Kak Jami mengegas motornya, berlalu mengibaskan debu di warung gorengan tepi jalan itu.
“Huh, kalau kamu dikasihnya, Tin. Tapi kalau aku…”
“Alah dikasih apanya, Dul,” potong Tini, “uang segini juga nggak ada sisanya kalau ngeliat gorengan-gorengan yang sudah kamu embat!” Dul mesem-mesem.
“Lagipula, kalaupun ada lebihnya, juga nggak bakal cukup nombokin utangnya!” Tini nyerocos sambil membereskan gelas kopi Kak Jami.
“Jadi, Kak Jami itu banyak bon-nya ya, Tin?”
“Masih banyakan kamu, Dul!” Dul tersedak.
“Minum ambil sendiri di belakang,” Tini berlalu membawa gelas dan lap ke belakang. Dul menuju becaknya, berlalu tanpa permisi.
“Ngapain sih, Bu? Dari pagi sampai siang begini, nggak ke depan-depan juga? Di belakang aja mendepnya?”
“Kamu capek jaga warung sendirian?”
“Alah Ibu, tumben sensitif. Ibu juga nggak nganggur di belakang. Tuh, piring, gelas, dan gorengan sudah ibu bereskan.”
“Ibu sedih, Tin. Ibu kecopetan.”
“Kecopetan?!”
“Iya. Dini hari tadi, Tin. Ibu baru sadar kalau lelaki yang ibu kira tak sengaja menabrak Ibu itu ternyata pencopetnya. Ini semua masih ngutang dengan pedagang-pedagang pasar pagi,” Bi Ano menunjuk tahu, pisang, ubi rambat, ubi kayu, sukun, ketan, dan penganan goreng lainnya. “Untung mereka sudah langganan ibu semua. Jadi, mereka percaya saja.” Tini mengangguk-angguk tanda turut merasakan kesedihan ibunya.
Bi Ano memang berbelanja ke pasar pagi saban pukul empat dini hari untuk membeli macam-macam penganan yang akan diogoreng di subuh harinya. Sementara Tini, membereskan warung, menjerang air panas, mencuci gelas-piring, menderek air dari sumur umum di kampung SS . Baru setelah subuh, Tini membuka warung. Bi Ano juga sudah membawa barang-barang belanjaannya ke belakang. Rutinitas itu sudah berlangsung ba’da kematian suami Bi Ano, 8 tahun yang lalu.
“Ibu kenal yang nabrak?”
“Mana tahulah, Tin. Namanya juga pasar, orangnya berdesakan. Lagi pula lelaki itu memakai penutup kepala, jadi wajahnya nggak keliatan. Yang jelas, Ibu hakul yakin kalau lelaki yang nabrak itu adalah copetnya. Yah pokoknya kata orang piling gitu, Tin”
* * *
“Ada Bi Ano, Tin?”
“Ooo Yuk Ling, Minah. Sebentar, dipanggil dulu. ibu di belakang” Minah dan Ling duduk di kursi panjang warung itu sambil mengelus perutnya yang membesar.
“Eeeeh Minah, Ling, tumben. Ada apa?”
“Tadi ada Kak Jami ke sini?” tanya Ling.
“Iya. Biasalah ngopi pagi bareng Dul. Ada apa memangnya, Ling?”
“Uangku dicuri, Bi!”
“Siapa yang nyuri? Bukan suamimu, kan?”
“Bukan, Bi!” Ling menggeleng, “Aku kenal perawakannya Kak Jami!”
“Jadi kamu sempat ngeliat pencurinya?”
“Iya Bi. Tadi sekitar jam 11-an. Waktu itu aku baru pulang dari counter, jemput pembukuan yang tertinggal. Tak tahunya Yuk Ling sudah nangis di samping almarinya yang acak-acakkan. Semua simpanannya raib. Katanya pencuri itu keburu pergi. Tapi Yuk Ling ingat perawakan dan warna bajunya, Bi,” jelas Minah. Di sampingnya Yuk Ling tampak sangat galau.
“Wah susah juga kalau cuma itu yang diingat, Yuk.” ujar Tini lemah.
“Itu persiapan ngelahirin nanti…” Ling mulai menangis.
Bi Ano dan Tini turut terbawa suasana. Mata mereka mulai berkaca, tak tega melihat wanita yang tengah hamil muda tersebut menanggung masalah yang pelik.
“Kalau Kak Jami mampir, sampaikan dengan dia. Aku dan Minah pergi ke rumah emak di Megang. Aku nggak masak, Bi. Nggak ada uang. Mmm…, kalau Bibi ada uang…”
“Sabar ya Ling,” Bi Ano mendekati Ling, “Bibi juga baru kecopetan Subuh tadi.” Ling mengangguk. Tak disangkanya kalau Bi Ano bernasib serupa dengannya.
Tini beringsut mendekati Ling. “Cuma ini, Yuk. Pakai dulu untuk ongkos,” Tini menyesakkan selembar uang 5 ribu ke tangan Ling.
“Terimakasih Tin. Aku pergi dulu.”
“Ati-ati, Yuk.”
Tiba-tiba. “Tin, aku bayar utang hari ini! Lunas!” seorang pemuda tanggung melemparkan selembar 50 ribuan di atas kaleng kerupuk. Ling terperangah melihat ke pemuda tersebut. Ling memelototinya dengan seksama.
“Wah banyak rezeki hari ini, Dul!” Tini mengambil uang tersebut. Dul tak menjawab, ia tertegun mendapati seorang wanita hamil di warung itu.
“Kau?!” Ling menunjuk-nunjuk Dul.
“Ada apa, Ling?” tanya Bi Ano.
“Aku nggak nyangka, kamu yang nyuri uangku di almari, Dul!” Ling mencak-mencak. Bi Ano dan Tini terperangah.
“Eh Yuk, jangan asal tuduh! Mentang-mentang aku megang banyak uang dikirain nyuri uang situ!” jawab Dul ketus.
“Ya ya ya, kamu. Enggak salah lagi! Perawakan dan bajumu persis dengan yang nyuri!” Dul bergegas hendak keluar warung. Tapi…
“BUG!” Bogem mentah mendarat di wajah Dul. Wanita-wanita di warung itu berteriak. Meja dan kursi kayu goyah. Beberapa nampan gorengan dan kaleng kerupuk jatuh ke tanah.
“Kak, K…K..Kak…!” Dul terperajat mendapati kerah bajunya dalam cengkeraman Jami.
“Aduh..aduh…, jangan ribut di sini!” Bi Ano panik, mengangkat piring dan gelas yang belum dibereskan ke belakang. “Oalah…warungku!”
Jami menyeret Dul keluar warung dan menghempaskannya di tanah kosong berpasir di samping warung. Minah merangkul Yuk Ling. Mereka sama-sama menangis menyaksikan Jami yang mulai terdesak. Entah dari mana datangnya, Dul sudah dibantu seseorang yang tampak dengan beringas menghajar Jami. Sementara itu, Tini dan Bi Ano berteriak minta tolong. Banyak orang berdatangan, tapi mereka tak banyak berperan melerai perkelahian itu. Mereka hanya menonton, seakan-akan perkelahian yang berkabut debu dan pasir itu menjadi tontonan yang menghibur di tengah teriknya hari.
“Jangan bergerak!” tiba-tiba 4 orang polisi menodongkan pistolnya ke arena perkelahian.
Orang-orang bersorak kecewa, merasa tontonan mereka begitu cepat berakhir.
“Pemuda itu yang mencuri uang saya, Pak Polisi!” Ling menunjuk-nunjuk Dul.
“Ibu ikut kami juga ke Kantor Polisi!”
“Lho kok?” Ling protes.
“Sebagai saksi,” jawab polisi singkat. Tampaknya ia yang berpangkat paling tinggi di antara rekan-rekannya. “Bawa ketiga lelaki itu ke mobil” perintahnya pada yang lain.
“Min, kamu temani ayuk!” Ling menarik tangan Minah.
“Tanpa diminta pun, aku juga akan ke sana, Yuk.” Mereka menaiki mobil bak terbuka bersama ketiga lelaki yang lainnya.
“Apa maksudmu tadi, Min?” tanya Ling sesaat setelah mobil bak terbuka tersebut melesat.
“Lha wong temannya Dul yang ngeroyok suami kakak itu juga pencuri?”
“Maksudmu?”
“Dia itulah yang mencuri uangku di counter tadi, Yuk! Aku memang nggak begitu kenal wajahnya, tapi di Lubuklinggau ini, berapa orang sih yang rambutnya kribo kayak sarang tawon gitu!”
“Tadi aku kira artis yang sering muncul di TV itu lho, Min.”
“Iya Yuk. Aku juga ketipu, mirip-mirip vokalisnya Nidji…”
“Siapa? Nidji, Siji…”
“Sudah Yuk, nggak penting!”
* * *
Tini sibuk membenahi kerusakan kecil di beberapa bagian dinding, meja, dan kursi kayu warungnya. Mereka belum menerima pembeli. Walaupun kerusakan warung itu tidak terlalu parah, namun Bi Ano masih syok. Tubuhnya lemas. Tampaknya darah rendahnya kumat.
“Udah Bu, biar Tini yang beresin.” Tini mencegah ibunya yang hendak membereskan beberapa gorengan yang berserakan di meja.
“Ini topi siapa, Tin?” tanya Bi Ano dengan ekspresi terkejut.
“Enggak tahu, Bu. Ada apa memangnya? Kok sepertinya ibu tahu dengan topi itu?”
“Ibu ingat, lelaki yang menabrak ibu dini hari tadi memakai topi ini.” Bi Ano mengangkat topi koboi itu.
“Jadi, pencopet itu sempat makan gorengan di sini, Bu?”

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Ada kesalahan di dalam gadget ini