Senin, 13 Februari 2012

Obbie Mesakh, Maestro Pop Era 80an Orbitan JK Records

(Melody Memory, oleh Obbie Messakh)
-----------------------------------------

"Melodi, melodi memori 
yang pernah tercipta
jadi teman setia....

Melodi, melodi memori
pengganti dirimu
penghibur sepi malamku...."
------------------------------------------


Sobat Rockers 90's, masih ingatkah dengan lirik lagu di atas? Itulah penggalan syair lirik lagu dari Obbie Messakh, yang berjudul "Melody Memory" yang sempat populer di era 80an. Lahir pada tahun 1958 dengan nama Thobias Messakh, oleh karena itu, dipanggil Obbie. pria ini sejak kecil tinggal dan besar di Jakarta. Orang tuanya berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, kawasan paling selatan Indonesia. Daerah ini dikenal sebagai penghasil nira lontar, gula lempe (sejenis gula jawa) kelas satu.

Kemunculan Obbie Messakh di Belantika Musik Nasional

Munculnya Obbie Messakh, sekitar 1983, tak lepas dari suasana pasar musik nasional yang dikuasai oleh JK Records, perusahaan rekaman milik Judhi Kristiantho (JK).  JK Records saat itu merilis album-album manis, renyah, mendayu-dayu. Artis-artis JK antara lain Dian Piesesha, Meriam Bellina, Marina Elsera, Lidya Natalia, Heidy Diana, Hellen Sparringa, Anie Ibon, Meta Armis, Ria Angelina. Disokong penuh oleh acara Aneka Ria Safari dan Selekta Pop di TVRI, lagu-lagu artis JK pun segera menyebar luas ke tanah air pada 1980-an. Nah, Obbie Messakh didesain JK sebagai salah satu penulis lagu laris (hits maker) bersama Pance F Pondaag, Maxi Mamiri, Wahyu OS, Judhi Kristianto sendiri, Deddy Dores. Tapi harus diakui Obbie yang waktu itu masih remaja (usia SMA atau mahasiswa tingkat awal) merupakan hits maker paling dicari industri rekaman. 

Setelah lagu-lagunya meledak, JK ‘memaksa’ Obbie Messakh merilis album solo perdana. Judulnya ‘Kau dan Aku Satu’. Beberapa lagu yang pernah dibawakan artis cewek JK, dibawakan sendiri oleh Obbie Messakh… dan sukses. Nama Obbie Messakh pun makin menjulang.

Seperti biasa, daur musik pop bergerak dengan cepat. Setelah membuat lagu hits, Hati yang Luka, Menteri Penerangan Harmoko marah-marah. Ia melarang lagu yang dipopularkan oleh Betharia Sonata itu lantaran dianggap cengeng. Ramailah polemik di koran, dan di media elekronik (televisi & radio) kala itu. Sejak itu TVRI, sebagai satu-satunya stasiun televisi, tidak lagi menayangkan lagu-lagu Obbie Messakh, khususnya "Hati yang Luka". Saya masih ingat, TVRI terakhir menayangkan instrumentalia Hati yang Luka yang dimainkan grup musik sasando. Musik tradisional NTT itu memang berasal dari kampung halaman Obbie Messakh pula.

Pamor Obbie Messakh menurun drastis, begitu juga JK Records. Maklum, tren musik pop sudah berubah dengan naiknya sejumlah artis yang mengusung apa yang disebut ‘pop kreatif’. Istilah ini secara implisit ingin mengatakan bahwa lagu pop versi Obbie Messakh dkk tidak kreatif alias cengeng. Koran Jawa Pos di Surabaya mengangkat isu ini sebagai bahan polemik yang ramai.

“Apanya yang kreatif? Apanya yang tidak kreatif? Obbie Messakh bisa membuat lagu karena kreatif,” ujar seorang pengamat musik. Obbie Messakh saat diwawancarai Jawa Pos tenang-tenang saja. 

Banyak Yang Menganggap Lagu-Lagu Obbie Terkesan "Cengeng"?

Obbie Messakh itu ternyata ceria, suka bercanda, ceplas-ceplos. Beda jauh dengan lagu-lagunya yang sebagian besar bercerita tentang kesedihan, bahkan frustrasi. Ini terlihat saat Obbie Messakh tampil di acara Zona 80, Metro TV, Minggu 31 Agustus 2008. Selama satu jam, diselingi iklan, tentu, penonton televisi diajak kembali ke era 1980-an. 

Obbie Messakh, musisi asal Rote, Nusa Tenggara Timur, memang salah satu dari sekian banyak ikon musisi era 80-an. Suka tidak suka orang harus ingat Obbie kalau bicara tentang musik pop 1980-an. Karya-karyanya mendominasi program acara Aneka Ria Safari dan Selecta Pop di TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Indonesia masa itu. 

Ratusan lagu, bahkan mungkin ribuan, telah lahir dari tangan Obbie Messakh. Sebab, Obbie mengaku mulai menulis lagu sejak 1974. Rinto Harahap menjadi salah satu penulis lagu yang banyak memberi inspirasi padanya. Namun, setahu saya, Obbie Messakh mulai melejit ketika direkrut JK Records pada awal 1980-an. Judhi Kristianto, bos JK Records, mengandalkan Obbie dan Pance F. Pondaag sebagai penulis lagu utama perusahaan rekaman itu. 

Karakter lagu-lagu Obbie memang pas dengan karakter Judhi yang juga pemusik dan penulis lagu. Maka, puluhan artis pun diorbitkan JK Records. Sebut saja Lidya Natalia, Ria Angelina, Helen Sparingga, Heidy Diana, Dian Piesesha, Marina Elsera, Nindy Ellese... dan masih banyak lagi. Sukses Obbie di JK Records membuat produser lain di era 80-an terigur. Mereka antre menunggu lagu-lagu Obbie Messakh.

"Waduh, waktu itu nyari Bang Obbie susahnya setengah mati. Dia kan lagi jaya-jayanya," kata Ratih Purwasih di Zona 80, Metro TV. "Saya malah tidak pernah bertemu langsung sama Bang Obbie. Padahal, saya terangkat karena lagu-lagunya," tambah Angel Pfaff. Pada akhir Agustus 2008 ini tubuh Angel Pfaff terlihat gemuk berisi, tak lincah, jangkauan suaranya pun tidak prima lagi.

Angel, pelantun 'Pernahkah Dulu', bersama Ratih Purwasih--adik kandung penyanyi Endang S. Taurina yang juga kondang pada 1980-an--mendampingi Obbie Messakh di Zona 80-an. Pemandu acaranya Ida Arimurti dan Sys NS, dua penyiar radio yang kondang di Jakarta pada 1980-an. Di saat begitu banyak selebitis lama mengidap obesitas dan stroke, fisik Obbie Messakh tetap langsing macam 20-an tahun silam. Suaranya lebih tebal, tapi tetap nyaman. Ini karena Obbie memang sejak dulu aktif berolahraga.

Bagi Obbie Messakh, menulis lagu-lagu sweet pop ala JK Records merupakan berkah luar biasa pada 1980-an. Hampir semua artis yang diorbitkan dengan lagu karyanya melejit. Kaset--dulu belum ada CD--laku keras. "Paling sedikit terjual 400.000. Industri musik benar-benar booming," kenang Obbie yang lahir dan besar di Jakarta itu. 

Sebagai perbandingan, saat ini bisnis kaset/CD memasuki masa yang sangat sulit. Studio banyak, siapa saja bisa bikin lagu, merekam lagu, membuat aransemen dengan berbagai corak, tapi... sulit dijual. Laku 20.000 saja sudah bagus. Bahkan, ada penyanyi terkenal sudah senang bukan main ketika albumnya terjual 2.000. Masa keemasan seperti yang dirasakan Obbie dan JK pada era 1980-an tampaknya hanya tinggal sejarah.

Di program musik nostalgia Metro TV yang mulai dilirik banyak orang itu, Obbie juga menjelaskan kasus pelarangan lagunya oleh pemerintah Orde Baru. Tepatnya, pada 1988 Menteri Penerangan, Harmoko (sebagai penanggung jawab utama TVRI) murka gara-gara lagu Hati Yang Luka (karya Obbie Messakh, dibawakan Betharia Sonata) sangat sering keluar di TVRI. Di mana-mana orang menyanyikannya. Lantas, Pak Harmoko meminta agar TVRI tidak lagi menyiarkan lagu-lagu cengeng. 

"Saya sendiri tidak paham apa yang dimaksud dengan 'cengeng'. Di kamus bahasa Indonesia tidak ada istilah itu," kata Obbie Messakh. Namun, Obbie mengakui pelarangan lagu-lagu manis ciptaannya juga membawa hikmah. Sebab, sejak itu dia sering diundang pejabat dan menteri-menteri. 

Menurut Obbie, lagu 'Hati Yang Luka' itu justru membela kaum perempuan yang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suami seenaknya main tangan. "Lihatlah tanda merah di pipi, bekas gambar tanganmu...," begitu antara lain lirik 'Hati Yang Luka'. Hanya saja, ungkapan advokasi versi Obbie Messakh dipahami secara berbeda oleh pemerintah, khususnya Pak Harmoko.

Pasca-Pelarangan Pada 1988, Karir Obbie Messakh Tamat?

Setelah pelarangan lagu-lagu Obbie oleh Menteri Penerangan, Harmoko pada tahun 1988, Obbie Messakh tetap berkarya. Dia menulis lagu-lagu riang, bahkan pop dangdut. Masyarakat sempat suka, tapi tak sedahsyat lagu-lagu manis yang sudah menjadi trade mark Obbie Messakh. Dan, pelan tapi pasti, berakhirlah era keemasan Obbie Messakh, Pance Pondaag, Judhi Kristianto, Tommy J. Pisa, dan penyanyi-penyanyi sejenis. JK Records pun surut.

"Tapi saya senang karena sejak di JK Records sistem royalti sudah dipakai," ujar Obbie Messakh yang murah tawa itu. Gamblangnya, Obbie bisa membeli rumah, mobil, mencukupi nafkah keluarganya berkat royalti lagu-lagunya.
Obbie mengatakan tetap menciptakan lagu selama masyarakat (pasar) membutuhkan. Dan benar. Karya-karya Obbie Messakh terus mengalir meski tidak segencar masa jaya JK Records. Nada-nada manis pun semakin kurang porsinya. Obbie Messakh malah menciptakan Sakit Gigi, lagu dangdut yang hits setelah dibawakan Meggy Z. Kemudian Mobil dan Bensin’.

Sejak Obbie Messakh kehilangan identitas, saya anggap dia sudah habis di pasar musik Indonesia. Di tahun 1990-an, apalagi setelah Reformasi 1998, Obbie Messakh benar-benar sudah habis. Tinggal cerita, mengutip sebuah petikan lirik lagunya. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share it